KKutacane Jejak
Kuliner Khas Aceh Tenggara

Sajian Gulai Ikan Lae yang Melegenda: Warisan Kuliner Aceh Tenggara yang Tak Terlupakan

Gulai Ikan Lae dari Kutacane, Aceh Tenggara, tetap menjadi primadona kuliner pada 2025–2026. Hidangan berkuah kaya rempah ini memikat lidah dengan cita rasa autentik dan cerita di baliknya.

Sajian Gulai Ikan Lae yang Melegenda: Warisan Kuliner Aceh Tenggara yang Tak Terlupakan

Ringkasan Cepat (Key Facts)

  • Gulai Ikan Lae menggunakan ikan sungai endemik dari Sungai Alas, diolah dengan rempah khas Aceh Tenggara.
  • Harga per porsi di warung legendaris seperti RM Pondok Lae berkisar Rp35.000–Rp50.000 (2026).
  • Tren penyajian modern mulai muncul, termasuk kemasan praktis untuk oleh-oleh dengan harga Rp70.000 per pack.
  • Musim ikan terbaik adalah April–September, saat debit Sungai Alas stabil.
  • Acara tahunan Festival Alas kerap menampilkan demo masak gulai ini dengan varian kreatif.

Dari Sungai Alas ke Piring: Asal-usul yang Beraroma Rempah

Gulai Ikan Lae bukan sekadar masakan biasa. Namanya berasal dari bahasa Alas 'lae' yang berarti sungai, merujuk pada ikan sungai segar yang jadi bahan utamanya. Para nelayan tradisional di Kutacane masih menangkap ikan seperti depik dan jurung menggunakan jaring atau bubu di Sungai Alas. Keunikan gulai ini terletak pada racikan rempahnya—kunyit muda, serai, dan cabai merah diolah dengan santan kental ala Aceh. Bedanya dengan gulai daerah lain? 'Kami pakai asam sunti (asam keping khas Gayo) untuk rasa segar yang khas,' jelas Bu Darmi, pemilik RM Pondok Lae yang sudah beroperasi sejak 1998.

Tempat Mencicipi & Inovasi Terkini

Selain RM Pondok Lae di Jalan Merdeka, warung tenda di Pasar Malam Kutacane juga jadi favorit warga. Kini, beberapa kedai seperti Gulai Lae Dapoer Ummi menawarkan konsep kekinian dengan tempat makan Instagrammable. Harga tetap terjangkau, Rp40.000–Rp60.000 per porsi (2025). Yang baru adalah kemasan frozen untuk oleh-oleh, laris dibeli pelancong menuju Danau Laut Tawar. 'Tahun ini mulai ada varian gulai ikan lae pedas manis untuk anak muda,' kata Reza, pemuda Kutacane yang membuka kedai delivery khusus hidangan ini.

Warisan yang Tetap Hidup di Generasi Digital

Meski tren kuliner global masuk, Gulai Ikan Lae bertahan karena komitmen pada rasa autentik. Komunitas Muda Alas rutin mengadakan workshop memasak untuk pelajar. Di media sosial, tagar #GulaILaeNgeunah (enak) ramai dipakai food vlogger. Yang menyentuh, para ibu masih mengajarkan cara mengulek bumbu secara tradisional—seperti pesan almarhumah Nek Siti, legenda masakan Alas: 'Gulai tak boleh pakai blender, nanti roh rempahnya hilang.'

Orang Juga Bertanya

Di mana lokasi terbaik mencicipi Gulai Ikan Lae asli di Kutacane?

RM Pondok Lae di Jalan Merdeka dan warung tenda Pasar Malam Kutacane adalah rekomendasi warga lokal. Keduanya buka jam 10.00–21.00 WIB.

Berapa harga Gulai Ikan Lae frozen untuk oleh-oleh?

Per pack 500 gram dijual Rp70.000–Rp90.000 (2026), tersedia di toko oleh-oleh seperti Toko Khas Aceh Tenggara dekat Terminal Kutacane.

Apa perbedaan Gulai Ikan Lae dengan gulai dari daerah Aceh lain?

Ciri khasnya ada pada penggunaan asam sunti dan ikan sungai segar (bukan ikan laut), serta santan yang lebih kental dengan dominasi kunyit muda.

Kapan waktu ideal berkunjung untuk menikmati Gulai Ikan Lae?

April–September saat musim ikan melimpah. Hindari Oktober–Januari ketika Sungai Alas sering banjir dan pasokan ikan berkurang.